Menurunnya angka kelahiran dan meningkatnya angka harapan hidup dengan cepat mengubah struktur usia dunia, mendorong negara-negara menghadapi tuntutan baru di berbagai bidang mulai dari layanan kesehatan dan jaminan sosial hingga perumahan dan transportasi.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), populasi global berusia 60 tahun ke atas mencapai 1,1 miliar pada tahun 2023.
Angka ini diperkirakan akan meningkat hampir dua kali lipat menjadi 2,1 miliar pada tahun 2050.
Namun mempersiapkan diri menghadapi populasi menua bukan sekadar memperluas layanan bagi lansia.
Ahli gerontologi Hatice Selin Irmak Yasar mengatakan negara-negara juga perlu memikirkan kembali perumahan, transportasi, jaminan sosial, perawatan dan perencanaan kota untuk membantu masyarakat tetap mandiri, aman dan terhubung secara sosial selama mungkin.
Associate Professor di Universitas Istanbul-Cerrahpasa juga menekankan bahwa penuaan tidak boleh dipandang hanya sebagai masalah bagi orang lanjut usia.
“Orang-orang muda dan paruh baya saat ini akan menjadi generasi tua di masa depan,” katanya kepada TRT World, menjadikan penuaan sebagai isu kebijakan seumur hidup.
Namun, setiap negara merespons perubahan demografi ini dengan cara yang berbeda-beda.
Türkiye memperkuat dukungan sosial bagi lansia, sementara Jepang mengembangkan layanan berbasis teknologi dan komunitas ramah demensia.
Swiss berfokus pada perumahan dan lingkungan hidup yang memungkinkan lansia untuk menua secara mandiri.
Global Aging Society Index membandingkan 143 negara berdasarkan seberapa baik masyarakat mereka beradaptasi terhadap penuaan populasi.
Pengalaman Swiss, Türkiye, dan Jepang menawarkan tiga pendekatan berbeda dalam mempersiapkan dunia di mana masyarakat bisa hidup lebih lama.
Respons Türkiye terhadap populasi lansia lebih dari sekadar memperluas layanan perawatan.
Negara ini sedang mengembangkan berbagai bentuk dukungan untuk membantu masyarakat tetap berada di rumah, lingkungan, dan komunitas mereka sendiri seiring bertambahnya usia.
Salah satu contoh yang paling mapan adalah Program Dukungan Lansia (YADES).
Disalurkan melalui pemerintah kota, program ini mendukung perawatan berbasis rumah, bantuan siang hari, dan layanan sosial untuk lansia.
Bagi mereka yang memiliki kebutuhan kesehatan jangka panjang, akses terhadap layanan yang dekat dengan rumah juga dapat memberikan perbedaan yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari.
Faik Uluocak, yang tinggal di distrik Mesudiye di Ordu, mengatakan kepada TRT World bahwa Kota Metropolitan Ordu menyediakan dukungan transportasi dialisis.
"Kami tidak dapat menemukan dukungan seperti ini di masa lalu. Bantuan staf juga membuat segalanya lebih mudah. Mereka datang ke rumah saya untuk cuci darah dan menyediakan transportasi. Ini sangat baik," katanya.
Namun membantu para lansia untuk tetap berada di rumah melibatkan lebih dari sekedar akses terhadap layanan individu.
Selama bertahun-tahun, para lansia membangun hubungan melalui lingkungan, kelompok sosial, dan rutinitas sehari-hari.
Tetap berada di lingkungan yang akrab dapat membantu menjaga hubungan ini dan mendukung rasa memiliki, keamanan, dan kendali, terutama selama transisi besar dalam hidup, kata Yasar.
Mempertahankan lingkungan yang akrab dapat mendukung rasa memiliki, keamanan, dan kendali seseorang atas kehidupannya sendiri, tambahnya.
“Rumah tidak boleh menjadi batas dunia orang lanjut usia; rumah harus menjadi titik awal yang aman untuk terhubung dengan masyarakat,” katanya kepada TRT World.
Seiring dengan bertambahnya populasi lansia, pengembangan alternatif terhadap layanan institusional juga menjadi bagian penting dari pendekatan kebijakan.
Pusat-pusat tersebut dirancang untuk membantu para lansia mempertahankan rutinitas sehari-hari, hubungan sosial dan partisipasi dalam kehidupan komunitas.
Menurut .....selengkapnya