Serangan yang dilakukan oleh pemukim ilegal Israel di Tepi Barat yang diduduki melonjak 63 persen dari Januari hingga Juli dibandingkan periode yang sama tahun lalu, kata sebuah badan pemerintah Palestina pada hari Senin.
Komisi Perlawanan Tembok dan Permukiman mengatakan pihaknya mencatat 4.113 serangan selama periode tujuh bulan, naik dari 2.524 serangan pada tahun sebelumnya, atau meningkat sebesar 1.589 insiden.
Komisi tersebut mengatakan lonjakan tersebut bertepatan dengan perluasan pos-pos pemukiman ilegal, khususnya pos-pos pastoral, serta mempersenjatai pemukim ilegal Israel dan penggabungan beberapa dari mereka ke dalam formasi keamanan.
Laporan tersebut juga menyebutkan perlindungan militer Israel dan menurunnya akuntabilitas sebagai faktor di balik peningkatan tersebut.
Badan tersebut mengatakan lemahnya pencegahan dan akuntabilitas internasional telah membantu mengubah serangan yang dilakukan oleh pemukim ilegal Israel dari insiden yang terisolasi menjadi alat yang terorganisir untuk menerapkan realitas baru di lapangan dan mendorong masyarakat Palestina untuk mengungsi.
Pada hari Sabtu, komisi tersebut mengatakan Tepi Barat yang diduduki memiliki 592 pemukiman dan pos-pos ilegal Israel, sementara Israel secara tidak sah menguasai sekitar 42 persen wilayah tersebut.
Laporan tersebut menyebutkan jumlah pemukim ilegal Israel yang tinggal di Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, berjumlah sekitar 780.000 pada akhir Juli, terdiri dari 333.600 di permukiman di Yerusalem Timur dan 446.400 di tempat lain di Tepi Barat yang diduduki.
Serangan yang dilakukan oleh pasukan Israel dan pemukim ilegal di Tepi Barat yang diduduki sejak dimulainya perang genosida Israel di Gaza telah menewaskan 1.182 warga Palestina dan melukai lebih dari 12.000 lainnya, sementara sekitar 24.000 orang telah ditangkap, menurut angka resmi Palestina.