Lima belas tahun yang lalu, perdana menteri Turki saat itu dan Presiden saat ini Recep Tayyip Erdogan mendarat di Mogadishu pada saat Somalia menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terburuk dalam sejarah modernnya.
Kelaparan telah menghancurkan banyak komunitas di seluruh negeri, kelompok bersenjata Al Shabab masih menguasai wilayah yang signifikan, dan sebagian besar komunitas internasional memandang Somalia terutama melalui kacamata bencana kemanusiaan, terorisme, dan kerapuhan negara.
Kunjungan Erdogan berisiko, signifikan secara politik, dan yang paling penting, tidak biasa. Ini bukan sekadar perjalanan diplomatik ke ibu kota yang berada di tengah krisis.
Ini merupakan salah satu kunjungan internasional tingkat tinggi pertama ke Mogadishu selama bertahun-tahun dan terjadi pada saat perjalanan ke sana menimbulkan kekhawatiran akan keamanan. Media menggambarkan kunjungan ini sebagai kunjungan pertama seorang pemimpin dari luar Afrika ke Somalia dalam hampir dua dekade.
Lima belas tahun kemudian, pentingnya momen itu dapat dinilai tanpa meromantisasinya.
Kunjungan tersebut tidak menciptakan hubungan Türkiye-Somalia. Kedua negara menandai 60 tahun hubungan diplomatik pada tahun 2026, dan hubungan historis mereka sudah terjalin jauh ke belakang.
Kedutaan Besar Türkiye di Mogadishu didirikan pada tahun 1979, ditutup setelah runtuhnya negara Somalia pada tahun 1991 dan dibuka kembali pada bulan November 2011.
Türkiye juga telah mulai memperdalam keterlibatannya di Afrika sebelum kunjungan Erdogan, termasuk melalui kebijakan ‘Membuka terhadap Afrika’ yang diluncurkan pada tahun 1998.
Apa yang dilakukan oleh kunjungan Mogadishu berbeda: kunjungan ini mengubah arah, skala dan makna politik dari hubungan tersebut. Hal ini mengubah hubungan bilateral yang telah lama terjalin menjadi salah satu keterlibatan Türkiye yang paling komprehensif di benua Afrika.
Pentingnya kunjungan tahun 2011 bukan hanya sekedar apa yang dikatakan Erdogan di Mogadishu, namun sinyal politik yang terkandung dalam kehadiran fisiknya.
Pada saat Somalia sering dibahas di ruang konferensi yang jauh dari negara tersebut, Ankara memilih untuk terlibat di lapangan.
Kunjungan ini membantu menarik perhatian internasional terhadap bencana kelaparan ini dan menunjukkan bahwa Somalia dapat didekati tidak hanya sebagai negara darurat kemanusiaan namun juga sebagai masyarakat politik yang institusi, perekonomian dan masa depannya memerlukan keterlibatan berkelanjutan. Perbedaan itu penting.
Diplomasi kemanusiaan sering kali dimulai dengan merespons penderitaan yang terjadi saat ini. Keterlibatan strategis dimulai ketika hubungan berlanjut setelah kamera pergi. Pertunangan Türkiye berhasil.
Setelah kunjungan tersebut, TIKA, Bulan Sabit Merah Turki dan organisasi non-pemerintah Turki memperluas kegiatan mereka di Somalia.
TIKA mendirikan kantor koordinasi program Mogadishu pada tahun 2011 dan kemudian melaksanakan proyek di bidang kesehatan, pendidikan, pertanian, infrastruktur, kapasitas administrasi dan bantuan kemanusiaan. Angka resmi Turki menunjukkan bahwa bantuan ke Somalia sejak tahun 2011 telah melebihi $1 miliar.
Oleh karena itu, arti penting dari kegiatan-kegiatan ini bukan hanya sekedar nilai moneternya. Hal ini merupakan peralihan bertahap dari bantuan darurat ke keterlibatan institusional.
Rumah sakit, sekolah, jalan dan infrastruktur lainnya merupakan wujud nyata dari proses ini. Namun lembaga-lembaga lebih penting daripada proyek-proyek individual karena lembaga-lembaga tersebut menentukan apakah bantuan eksternal menciptakan kemampuan yang dapat bertahan melebihi bantuan itu sendiri. Di sinilah lintasannya menjadi sangat menarik.
Warisan paling penting dari kerja sama pembangunan tidak selalu berupa bangunan yang bisa difoto atau proyek yang peresmiannya bisa dirayakan. Terkadang itu adalah .....selengkapnya